Seringkali dalam hidup ini, kita menghadapi berbagai kepedihan yang menusuk hati, kepedihan tersebut muncul disebabkan oleh suatu peristiwa tertentu, terkadang kita merasakan kepedihan ketika ada seseorang yang melontarkan kata-kata umpatan, ejekan, atau cemoohan kepada kita, kata-kata tersebut seringkali melukai perasaan kita, karena hal itu seseorang terkadang mencurahkan rasa pedih yang dialami kepada orang lain.
Misalnya, seorang wanita yang menghadapi peristiwa menyakitkan terkadang lebih suka untuk menceritakan perasaannya kepada seorang pria karena jiwanya lebih peka dan lembut. Untuk mengalihkan perasaan sakitnya, wanita tersebut biasanya melontarkan kata-kata positif di berbagai forum, tetapi kata-kata tersebut sebenarnya mengandung beban tersendiri yang sifatnya menyakitkan perasaan, hal ini terjadi karena tidak semua orang memiliki kemampuan alamiah untuk mengatakan hal-hal yang baik.
Pada dasarnya, perasaan seseorang—terlebih wanita—sifatnya lembut dan peka, kepekaan tersebut mengalir di darah kita seperti halnya air mengaliri tangkai bunga mawar, sentuhan kecil sekalipun bisa menodai, melukai, bahkan mematahkan mawar tersebut, demikianlah apabila perasaan seseorang tersentuh dengan hal(-hal) yang menyakitkan, ia akan menjadi seperti anak kecil yang terjatuh saat berlari atau burung yang sayapnya patah, kalau sudah terjadi seperti itu, dia cenderung "menyeka darahnya" secara sembunyi-sembunyi, jauh dari orang lain.
Jiwa yang baik itu seumpama mawar yang terluka, tetap menebar bau harum kepada yang mematahkan tangkainya sekalipun, ia tidak akan enggan untuk menebar keharuman yang sangat kuat bagi siapapun di sekitarnya, sehingga mawar selalu diperbincangkan oleh banyak orang sebagai simbol kasih sayang, begitulah keadaan seseorang yang selalu menebar kata-kata positif kepada siapapun yang mencintai maupun membencinya, dia tidak akan enggan berkata baik kepada semuanya.
Memang pada awalnya, berkata (dan juga berbuat) baik kepada semua orang itu sangat melelahkan, tetapi pada akhirnya kita akan mendapatkan keamanan dan kebahagiaan sejati, selain itu, orang lain juga akan senang dan bangga kepada kita. Kebanggaan tersebut didapat karena usaha kita untuk melampaui pergolakan dalam diri, hingga kemudian kita berusaha meningkatkan kualitas diri dengan meneladani para Nabi dan orang-orang besar yang tetap bersabar walaupun didustakan dan disiksa, mereka membalas perkataan dan perlakuan buruk dari orang lain dengan kebaikan, maaf, kesabaran, dan lapang dada.
Memang mudah bagi kita untuk membalas cacian dengan cacian dan rutukan dengan rutukan, karena menghancurkan sesuatu itu sangat mudah, dan membangun sesuatu itu sangat sulit, sesulit membalas keburukan dengan kebaikan, cacian dengan kata-kata positif, kesedihan dengan kegembiraan, sebagaimana yang dilakukan oleh setangkai mawar yang menunjukkan keindahan dan menebarkan bau harum yang dimiliki kepada siapapun yang menyukai maupun membencinya.
Sesungguhnya, dalam jiwa kita terhadap elemen kebahagiaan yang makin kuat apabila keimanan kita makin kokoh, salah satu perilaku yang mencerminkan keimanan adalah sikap rela mengorbankan segala sesuatu yang dimiliki, seperti jiwa, harta, tenaga, serta rela turun gunung membantu orang fakir miskin dan yatim piatu, sembari sejenak melupakan kesenangan diri sendiri. Iman adalah sumber kebahagiaan jiwa, imanlah yang membuat jiwa kita seolah terbang bebas dari raga kita.
Iman yang demikian haruslah bebas dari selubung kesombongan dan kekerasan hati, iman yang demikian membuat kita mau untuk duduk bersama orang miskin karena kita sadar bahwa sejatinya kita (pernah) miskin seperti mereka, kita mau menolong anak yatim, menyeka air mata mereka, menyenangkan hati mereka, merasakan lapar yang dialami orang fakir nan papa, merasakan air mata kesedihan yang terpancar dari pelupuk mata anak yatim, bahkan seluruh air mata di muka bumi rela kita rasakan juga, sembari mengerahkan bantuan dengan penuh rendah hati dan rasa cinta.
Sepatutnyalah kita membalas segala sesuatu dengan kebaikan, memaafkan, mengampuni, berlapang dada, beramah tamah, mencintai semua orang dengan hati yang tulus, menghibur mereka yang hatinya menderita, dan menangis apabila kita tidak mampu membantu mereka yang membutuhkan bantuan dari kita, kita jadikan air mata yang keluar sebagai isyarat maaf kepada mereka.
Sebab, walaupun hari ini ada perbuatan baik dari kita yang tidak diketahui siapapun, namun sejatinya, kelak ketika kita dikumpulkan dengan seluruh manusia yang pernah hidup di muka bumi, kita akan tahu bahwa kita tidak pernah mengharap balas budi maupun ucapan terima kasih dari setiap perbuatan baik kita, kita juga tidak pernah mendokumentasikan perbuatan baik kita di Instagram atau media sosial yang lain, karena bagi kita, cukuplah perbuatan baik kita didokumentasikan dalam catatan mahaagung yang disaksikan oleh Sang Mahaagung, kita telah mencatatkannya di dalam catatan malaikat Raqib dan Atid.
Dari 'Abdullah bin 'Amru radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata:
قيل: 'يا رسول الله، أي الناس أفضل؟' قال: 'كل مخموم القلب، صدوق اللسان،' قالوا: 'صدوق اللسان نعرفه، فما مخموم القلب؟ قال: 'هو التقي النقي، لا إثم فيه ولا بغي، ولا غل ولا حسد.'
"Suatu ketika ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, 'Siapakah manusia yang paling mulia?' beliau menjawab, 'Setiap makhmumul qalbi dan orang yang lisannya jujur,' para sahabat berkata, 'Orang yang jujur lisannya kami telah mengerti, namun siapakah makhmumul qalbi itu wahai Rasulullah?' beliau menjawab, “Dia adalah seorang yang yang memiliki hati yang bertakwa yang hatinya suci dari dendam, permusuhan, dan kedengkian."
Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang yang makhmumul qalbi, semoga kita selalu berada dalam keadaan yang baik, selamat, bahagia, dan sehat lahir-batin.