Monday, 18 June 2018

Pentingnya Keluarga dalam Menangkal Pornografi Anak

Dalam suatu penelitian ilmiah yang dilakukan oleh London School of Economics and Political Science pada tahun 2005, didapati bahwa 57% anak dan remaja berusia 9 hingga 19 tahun sudah pernah menyaksikan konten pornografi, dan hanya 16% di antara mereka yang mengetahui bahwa itu merupakan suatu konten pornografi.

Peneliti dari Inggris, Tanith Carey mengatakan bahwa sebuah studi yang dilakukan di negaranya telah menetapkan suatu hasil bahwa 50% orangtua dari anak dan remaja korban pornografi menyangka bahwa anak-anak mereka yang masih perawan atau perjaka itu melakukan hal tersebut secara tidak sengaja.

Pada tahun 2010, Tanith Carey juga pernah menyebutkan bahwa lembaga Mothers' Union melakukan survey terhadap seribu ayah dan ibu dari anak yang berusia di bawah 18 tahun. Disimpulkan bahwa 20% di antara mereka telah kehilangan wewenang untuk mengatur tontonan anak-anak mereka di internet dan apa yang mereka lakukan di media sosial.

Tanith Carey memperingatkan akan peran negatif dari sebagian perusahaan dalam menyebarkan pemaknaan gender yang keliru di kalangan gadis, seperti iklan suatu pakaian bayi yang menerangkan bahwa pakaian tersebut sangat cocok bagi rocker, atau seperti supermarket Asda dan Primark yang menjual bra untuk anak berusia tujuh tahun.

Dr. Linda Papadopoulos juga memperingatkan keluarga akan penggunaan kata-kata sifat yang sifatnya sensitif, seperti seksi dan kata-kata lain yang menggambarkan kemolekan tubuh, dia juga menekankan agar keluarga cerdas dalam memilih kata sifat yang menggambarkan fisik seseorang.

Lalu, apabila dalam memuji fisik seseorang kita harus berhati-hati, maka bagaimana dengan sebagian orangtua yang malah menekan anak gadisnya agar melakukan sebuah pose vulgar untuk dipotret dan disebarkan di dunia maya?

Sunday, 17 June 2018

Menunda Pembelian

Sufyan ats-Tsauri pernah berkata:

"Apabila 'Umar bin Khattab menginginkan suatu barang yang harganya satu dirham atau lebih, beliau akan menundanya selama satu tahun."

Suatu ketika, 'Umar bin Khattab radhiyallahu 'anh pernah melihat Jabir bin 'Abdillah radhiyallahu 'anh sedang membawa daging, kemudian 'Umar bertanya: "Apa itu, wahai Jabir?", Jabir menjawab: "Aku menginginkan daging, maka dari itu aku membelinya," 'Umar menimpali: "Apakah ketika engkau menginginkan sesuatu, maka engkau harus membelinya, wahai Jabir?!"

Sebenarnya, Allah telah memperbolehkan manusia untuk memakan dan membeli semua barang yang baik-baik, tetapi penyakit yang dialami kebanyakan orang saat ini adalah membeli barang karena keinginannya, sehingga seseorang akan memburu barang tersebut seperti orang yang sangat kelaparan, dia juga akan membeli semua yang ada di depan matanya, semata didorong oleh keinginannya; manusia ingin sesuatu, maka manusia membelinya.

Saturday, 16 June 2018

Mewaspadai Pujian

Ibnul Muqaffa' pernah berkata:

"Berhati-hatilah dari sikap cinta pujian dan sanjungan, serta dari popularitasmu di hadapan orang lain, karena itu akan menyebabkan orang lain makin berusaha untuk meremukkanmu, menganggap bahwa pintu untuk menghancurkanmu makin terbuka, baik melalui gunjingan maupun cemoohan. Ketahuilah bahwa orang yang senang menerima pujian itu sama saja dengan yang senamg memuji orang lain, dan orang yang cerdas adalah orang yang menjadikan kecintaannya terhadap pujian sebagai sarana untuk menolaknya, karena menolak pujian itu perbuatan terpuji, dan menerimanya itu perbuatan tercela."

Thursday, 14 June 2018

Meremehkan Orang Lain, Penghalang Datangnya Ilmu

Abu 'Utsman al-Hiyari rahimahullah pernah berkata:

"Tidak ada orang yang meremehkan orang lain, melainkan dia tidak akan mendapat kebermanfaatan dari orang yang diremehkannya tersebut."

Betapa banyak ilmu yang tidak didapatkan hanya karena meremehkan yang memiliki ilmu tersebut, mungkin karena usianya yang terlalu muda atau karena dia tidak memiliki gelar keilmuan tertentu, mungkin juga karena penampilannya yang kurang meyakinkan atau karena kondisi ekonominya kurang berkecukupan. Barangsiapa ingin mendapat ilmu, maka dia harus mengondisikan dirinya untuk mampu menerima ilmu dari pemiliknya, walaupun pemilik ilmu tersebut kurang memenuhi ekspektasinya, baik secara penampilan, pengalaman, maupun keilmuan.

Tuesday, 8 May 2018

Penyesuaian Diri

Dahulu kala, ada seorang kaya yang memiliki harta berlimpah, suatu ketika, orang kaya ini melakukan perjalanan ke suatu tempat yang jauh, ketika dia kembali, dia mengeluhkan kakinya yang mulai pegal-pegal karena jalanan curam dan berbatu, sehingga dia memerintahkan untuk menutupi seluruh jalanan di situ dengan kulit binatang.

Para pelayannya mulai memikirkan pemecahan masalahnya, kemudian salah satu di antara mereka yang paling bijak memberanikan diri untuk mendekati orang kaya tersebut sembari berkata: "Mengapa engkau rela mengeluarkan hartamu untuk hal tersebut? Mengapa engkau tidak memotong kulit binatang tersebut untuk engkau letakkan di bawah kedua kakimu?"

Pete Cohen mengomentari cerita ilustrasi ini dengan berkata:

"Agar dunia menjadi tempat yang membahagiakan untukmu, engkau harus mengubah dirimu, bukan mengubah dunia terlebih dahulu."

Saturday, 5 May 2018

Kunci Kebahagiaan: Menjadi Diri Sendiri

Pete Cohen, seorang penulis dari Inggris pernah berkata:

"Budaya kita menuntut agar kita menyadari bahwa orang lain melihat kita, bukan menyadari bahwa mereka mendengar kita; membiasakan sikap tenang; berusaha melakukan sesuatu secara benar dan tidak ada kesalahan satu apapun; serta tidak mencitrakan diri kita secara jelas. Anak kecil merasa bahagia karena mereka tidak berusaha untuk menjadi orang lain dan tidak terlalu menghiraukan apa kata orang lain."

Friday, 4 May 2018

Problem of Evil: Menguatkan atau Melemahkan Atheisme?

Problem of evil merupakan suatu pertanyaan tentang bagaimana merekonsiliasikan kejahatan dengan kemahakuasaan Tuhan dan menjadi argumen penguat ajaran atheisme maupun agnostisisme. Problem of evil ini menjadi suatu perkara yang sudah menjadi bahan pembicaraan dalam filsafat, khususnya ilmu etika.

Pernah ada suatu dialog tentang problem of evil antara seorang filsuf dan matematikawan atheis dari Inggris bernama Bertrand Russell dan seorang sejarawan filsafat kenamaan bernama Frederick Copleston.

Copleston berkata: "Tn. Russell, bagaimana caranya membedakan kebaikan dengan keburukan?"

Russell lalu menjawab: "Dengan cara sebagaimana kita membedakan antara warna biru dengan warna hijau."

Copleston bertanya lagi: "Tunggu sebentar. Kita membedakan antara dua warna tersebut atas dasar penglihatan kita, bukankah begitu? Maka, bagaimana caranya membedakan kebaikan dengan keburukan?"

Russell menjawab: "Atas dasar perasaan."

Ravi Zacharias mengomentari dialog ini dengan berkata: "Tn. Russell, sebagian kebudayaan menganggap tetangga sebagai teman, sebagian lagi menganggapnya sebagai musuh. Semua itu didasarkan atas perasaan. Apakah ada perbedaan subjektif di sini?"

Dalam salah satu bukunya, Bertrand Russell telah berujar: "Aku tidak tahu bagaimana caranya berurusan dengan perkara moralitas. Sungguh, itu memuakkanku."

Dalam suatu dialog dengan atheis, Ravi Zacharias berkata: "Pertanyaan terkait moralitas sudah menjadi suatu yang ada dalam diri kita, ketika Anda menyatakan bahwa sesuatu itu buruk, apakah bisa sesuatu yang buruk itu kemudian berubah menjadi baik? Anda pasti membenarkannya. Ketika Anda menganggap bahwa sesuatu itu baik, seharusnya Anda mengakui adanya moralitas yang sebenarnya Anda ketahui. Kalau Anda mengakui adanya moralitas, Anda juga wajib mengetahui penempatannya. Saya mengetahui bahwa Saudara sangat menentang adanya konsep moralitas ini, karena Anda sudah menolak keberadaan Tuhan, maka otomatis Anda beranggapan bahwa moralitas itu tidak ada, kalau moralitas tidak ada, berarti kebaikan tidak ada, sehingga otomatis keburukan juga tidak ada."

Karena itu, biolog kontemporer dari Inggris yang merupakan seorang atheis, Richard Dawkins berkata: "Kita harus menolak hakikat keburukan kalau kita ingin mempertahankan argumen kita."

Wednesday, 2 May 2018

Menghadapi Kenyataan

Jack Welch, mantan Ketua Eksekutif General Electric pada tahun 1981 sampai 2001 pernah berkata:

"Hadapilah kenyataan sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang telah terjadi atau sebagaimana yang Anda harapkan akan terjadi."

Penyikapan positif dan produktif terhadap kenyataan diwujudkan dengan penggambaran kenyataan sebagaimana adanya, bukan sebagaimana kehidupan masa lampau yang telah berlalu atau sebagaimana angan-angan yang kita inginkan untuk terwujud. Misalnya, dalam menjalani hidup, kita tidak akan berhubungan secara langsung dengan perbuatan di masa lampau maupun mimpi-mimpi yang semu, kita hanya perlu melihat apa yang sekarang terjadi.

Andaikata kita pernah melewatkan suatu kesempatan karena umur yang terlalu singkat atau hilangnya kesempatan, jangan sampai kita  hidup di bayang-bayang masa lalu yang telah hilang dan tidak akan kembali. Begitu pula dengan masa depan, jangan terus terkungkung dalam mimpi yang semu dan cenderung melangit (Jw. ndakik-ndakik), yang harus kita lakukan adalah merenungkan kenyataan dan kemampuan yang kita miliki, serta kesempatan baru yang kita dapatkan, baik kesempatan belajar, bekerja, dan sebagainya, hiduplah sesuai kenyataan.

Religiusitas: Penentu Kesuksesan Berumah Tangga

Bradford Smith, seorang pengacara kawakan dari Amerika Serikat pernah berkata:

"Kebanyakan kegagalan yang terjadi dalam kehidupan berumah tangga disebabkan oleh ketiadaan religiusitas, dan perceraian paling banyak terjadi pada orang-orang yang tidak beragama."

Catatan saya:

Religiusitas yang mampu menjaga keluarga dan kehidupan berumah tangga bukan religiusitas dalam hal simbol dan ritual peribadatan semata, tetapi religiusitas perilaku dan akhlak yang diwujudkan dalam perbuatan yang sesuai dengan kodrat atau fitrah sejati manusia dan selamatnya hati dari segala penyakit hati.

Saturday, 28 April 2018

Anak-Anak dan Informasi Fiktif

Seorang wartawan dan kritikus sosial dari Amerika Serikat bernama Vance Packard berkata:

"Anak-anak mempercayai segala sesuatu yang dikatakan oleh orang tua, walaupun orang tua seringkali menipu dengan cerita-cerita fiktif dan mitos yang disiarkan oleh berbagai saluran televisi. Menurut majalah Harvard Business Review, ketika anak-anak berusia tujuh sampai sepuluh tahun, mereka mulai meragukan setiap berita, perkataan bohong, atau kisah fiksi. Ketika berusia 11 sampai 12 tahun, mereka lebih tidak mempercayai setiap perkataan dari tukang ejek dan caci."

Wednesday, 25 April 2018

Setan Kebudayaan

Bernard Lewis, seorang sejarawan Yahudi dari Inggris pernah berkata:

"Ada beberapa ayat al-Quran yang membicarakan tentang setan*, ayat tersebut mencirikan setan sebagai makhluk yang biasa membisikkan kejahatan kepada manusia secara sembunyi-sembunyi. Dari sini tampak bahwa setan bukanlah pembuka pintu ataupun pengekang. Setan di sini kedudukannya sebagai penipu yang semakin tersenyum lebar apabila tipuannya memberikan pengaruh besar bagi manusia yang digodanya. Setan ini sudah ada sejak munculnya para pemikir modern dari Timur Tengah, dan tidak diragukan lagi, ia akan terus ada dan berperan dalam berbagai usaha distorsi budaya, seperti: imitasi budaya asing, pengambilan keputusan yang menentang nilai-nilai budaya, percampuran antar berbagai budaya, serta sikap terlalu menutup diri dari budaya lain."

Monday, 23 April 2018

Mengendalikan Hati

Seringkali dalam hidup ini, kita menghadapi berbagai kepedihan yang menusuk hati, kepedihan tersebut muncul disebabkan oleh suatu peristiwa tertentu, terkadang kita merasakan kepedihan ketika ada seseorang yang melontarkan kata-kata umpatan, ejekan, atau cemoohan kepada kita, kata-kata tersebut seringkali melukai perasaan kita, karena hal itu seseorang terkadang mencurahkan rasa pedih yang dialami kepada orang lain.

Misalnya, seorang wanita yang menghadapi peristiwa menyakitkan terkadang lebih suka untuk menceritakan perasaannya kepada seorang pria karena jiwanya lebih peka dan lembut. Untuk mengalihkan perasaan sakitnya, wanita tersebut biasanya melontarkan kata-kata positif di berbagai forum, tetapi kata-kata tersebut sebenarnya mengandung beban tersendiri yang sifatnya menyakitkan perasaan, hal ini terjadi karena tidak semua orang memiliki kemampuan alamiah untuk mengatakan hal-hal yang baik.

Pada dasarnya, perasaan seseorang—terlebih wanita—sifatnya lembut dan peka, kepekaan tersebut mengalir di darah kita seperti halnya air mengaliri tangkai bunga mawar, sentuhan kecil sekalipun bisa menodai, melukai, bahkan mematahkan mawar tersebut, demikianlah apabila perasaan seseorang tersentuh dengan hal(-hal) yang menyakitkan, ia akan menjadi seperti anak kecil yang terjatuh saat berlari atau burung yang sayapnya patah, kalau sudah terjadi seperti itu, dia cenderung "menyeka darahnya" secara sembunyi-sembunyi, jauh dari orang lain.

Jiwa yang baik itu seumpama mawar yang terluka, tetap menebar bau harum kepada yang mematahkan tangkainya sekalipun, ia tidak akan enggan untuk menebar keharuman yang sangat kuat bagi siapapun di sekitarnya, sehingga mawar selalu diperbincangkan oleh banyak orang sebagai simbol kasih sayang, begitulah keadaan seseorang yang selalu menebar kata-kata positif kepada siapapun yang mencintai maupun membencinya, dia tidak akan enggan berkata baik kepada semuanya.

Memang pada awalnya, berkata (dan juga berbuat) baik kepada semua orang itu sangat melelahkan, tetapi pada akhirnya kita akan mendapatkan keamanan dan kebahagiaan sejati, selain itu, orang lain juga akan senang dan bangga kepada kita. Kebanggaan tersebut didapat karena usaha kita untuk melampaui pergolakan dalam diri, hingga kemudian kita berusaha meningkatkan kualitas diri dengan meneladani para Nabi dan orang-orang besar yang tetap bersabar walaupun didustakan dan disiksa, mereka membalas perkataan dan perlakuan buruk dari orang lain dengan kebaikan, maaf, kesabaran, dan lapang dada.

Memang mudah bagi kita untuk membalas cacian dengan cacian dan rutukan dengan rutukan, karena menghancurkan sesuatu itu sangat mudah, dan membangun sesuatu itu sangat sulit, sesulit membalas keburukan dengan kebaikan, cacian dengan kata-kata positif, kesedihan dengan kegembiraan, sebagaimana yang dilakukan oleh setangkai mawar yang menunjukkan keindahan dan menebarkan bau harum yang dimiliki kepada siapapun yang menyukai maupun membencinya.

Sesungguhnya, dalam jiwa kita terhadap elemen kebahagiaan yang makin kuat apabila keimanan kita makin kokoh, salah satu perilaku yang mencerminkan keimanan adalah sikap rela mengorbankan segala sesuatu yang dimiliki, seperti jiwa, harta, tenaga, serta rela turun gunung membantu orang fakir miskin dan yatim piatu, sembari sejenak melupakan kesenangan diri sendiri. Iman adalah sumber kebahagiaan jiwa, imanlah yang membuat jiwa kita seolah terbang bebas dari raga kita.

Iman yang demikian haruslah bebas dari selubung kesombongan dan kekerasan hati, iman yang demikian membuat kita mau untuk duduk bersama orang miskin karena kita sadar bahwa sejatinya kita (pernah) miskin seperti mereka, kita mau menolong anak yatim, menyeka air mata mereka, menyenangkan hati mereka, merasakan lapar yang dialami orang fakir nan papa, merasakan air mata kesedihan yang terpancar dari pelupuk mata anak yatim, bahkan seluruh air mata di muka bumi rela kita rasakan juga, sembari mengerahkan bantuan dengan penuh rendah hati dan rasa cinta.

Sepatutnyalah kita membalas segala sesuatu dengan kebaikan, memaafkan, mengampuni, berlapang dada, beramah tamah, mencintai semua orang dengan hati yang tulus, menghibur mereka yang hatinya menderita, dan menangis apabila kita tidak mampu membantu mereka yang membutuhkan bantuan dari kita, kita jadikan air mata yang keluar sebagai isyarat maaf kepada mereka.

Sebab, walaupun hari ini ada perbuatan baik dari kita yang tidak diketahui siapapun, namun sejatinya, kelak ketika kita dikumpulkan dengan seluruh manusia yang pernah hidup di muka bumi, kita akan tahu bahwa kita tidak pernah mengharap balas budi maupun ucapan terima kasih dari setiap perbuatan baik kita, kita juga tidak pernah mendokumentasikan perbuatan baik kita di Instagram atau media sosial yang lain, karena bagi kita, cukuplah perbuatan baik kita didokumentasikan dalam catatan mahaagung yang disaksikan oleh Sang Mahaagung, kita telah mencatatkannya di dalam catatan malaikat Raqib dan Atid.

Dari 'Abdullah bin 'Amru radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata:
قيل: 'يا رسول الله، أي الناس أفضل؟' قال: 'كل مخموم القلب، صدوق اللسان،' قالوا: 'صدوق اللسان نعرفه، فما مخموم القلب؟ قال: 'هو التقي النقي، لا إثم فيه ولا بغي، ولا غل ولا حسد.'
"Suatu ketika ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, 'Siapakah manusia yang paling mulia?' beliau menjawab, 'Setiap makhmumul qalbi dan orang yang lisannya jujur,' para sahabat berkata, 'Orang yang jujur lisannya kami telah mengerti, namun siapakah makhmumul qalbi itu wahai Rasulullah?' beliau menjawab, “Dia adalah seorang yang yang memiliki  hati yang bertakwa yang hatinya suci dari dendam, permusuhan, dan kedengkian."

Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang yang makhmumul qalbi, semoga kita selalu berada dalam keadaan yang baik, selamat, bahagia, dan sehat lahir-batin.

Worldview dan Filsafat

Robert James Berry, seorang naturalis Inggris pernah berkata:

"Kita mempelajari ontologi: ilmu yang mempelajari apa itu sesuatu; epistemologi: ilmu yang mempelajari bagaimana kita mengetahui sesuatu; dan etika: ilmu yang mempelajari bagaimana kita memperlakukan sesuatu. Terkadang, cabang-cabang filsafat ini dapat disebut sebagai worldview. Filsuf Yunani Kuno bukanlah filsuf satu-satunya yang mengemukakan spekulasi ini, filsuf Cina, Assyria, Mesir Kuno, Arab, maupun pemikir dari Barat semuanya memiliki pandangan tentang apa itu dunia, bagaimana kita mengetahui sesuatu, serta apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan terhadap sesuatu tersebut."

Sunday, 22 April 2018

Fitnah terhadap Islam

Salah satu sarana berbahaya yang digunakan untuk melemahkan kepercayaan terhadap sesuatu adalah fitnah. Sebenarnya, fitnah bukanlah sarana untuk mematahkan suatu argumen secara rasional, tetapi merupakan sarana menebarkan opini dusta seluas-luasnya untuk mempertahankan pemikiran yang buruk, fitnah membuat seseorang kehilangan kepercayaan terhadap sesuatu, atau paling tidak dia akan secara perlahan tidak membela sesuatu tersebut.

Salah satu contoh terbesar dari penggunaan dan pengaruh sarana berupa fitnah di sebagian besar media massa internasional adalah topik mengenai hubungan Islam dengan terorisme atau hubungan Islam dengan kemunduran peradaban. Penghinaan terhadap Islam yang dilakukan secara berulang-ulang dengan cara menyebarkan isu seperti ini merupakan suatu bentuk fitnah, bukan rasionalitas. Pelakunya menginginkan agar keyakinan umat Islam terguncang dengan isu ini.

Penyebaran ketakutan dalam diri Muslim dengan penyebaran berbagai isu dan fitnah juga bertujuan agar mereka tidak mampu membangun citra positif terhadap Islam.

Suku Indian di Mata Penjajah Spanyol

Seorang sejarawan Spanyol yang menjadi uskup Dominikan pertama di benua Amerika dan pernah menjadi rekan Christopher Columbus dalam penjelajahannya ke benua Amerika yang kedua kalinya, Bartolomé de las Casas pernah berkata:

"Penduduk aslinya (=penduduk asli benua Amerika) amatlah terhinakan, namun mereka tidak mampu berbuat apa-apa untuk menaikkan martabat mereka. Mereka terhinakan karena bangsa Spanyol menganggap mereka seperti hewan, bahkan kami diharuskan untuk mengatakan bahwa mereka lebih hina dari hewan, mereka juga dianggap seumpama kotoran. Kaum Kristen dari Spanyol selalu menjajah dengan menebarkan ketakutan dan gangguan terhadap penduduk daerah jajahannya, karena memang begitu politik Spanyol dalam menjajah suatu bangsa. Hal pertama yang dilakukan mereka ketika menjajah suatu bangsa adalah melakukan intimidasi, sehingga penduduk jajahannya tak ubahnya seperti kerumunan sapi yang lesu."