Tuesday, 8 May 2018

Penyesuaian Diri

Dahulu kala, ada seorang kaya yang memiliki harta berlimpah, suatu ketika, orang kaya ini melakukan perjalanan ke suatu tempat yang jauh, ketika dia kembali, dia mengeluhkan kakinya yang mulai pegal-pegal karena jalanan curam dan berbatu, sehingga dia memerintahkan untuk menutupi seluruh jalanan di situ dengan kulit binatang.

Para pelayannya mulai memikirkan pemecahan masalahnya, kemudian salah satu di antara mereka yang paling bijak memberanikan diri untuk mendekati orang kaya tersebut sembari berkata: "Mengapa engkau rela mengeluarkan hartamu untuk hal tersebut? Mengapa engkau tidak memotong kulit binatang tersebut untuk engkau letakkan di bawah kedua kakimu?"

Pete Cohen mengomentari cerita ilustrasi ini dengan berkata:

"Agar dunia menjadi tempat yang membahagiakan untukmu, engkau harus mengubah dirimu, bukan mengubah dunia terlebih dahulu."

Saturday, 5 May 2018

Kunci Kebahagiaan: Menjadi Diri Sendiri

Pete Cohen, seorang penulis dari Inggris pernah berkata:

"Budaya kita menuntut agar kita menyadari bahwa orang lain melihat kita, bukan menyadari bahwa mereka mendengar kita; membiasakan sikap tenang; berusaha melakukan sesuatu secara benar dan tidak ada kesalahan satu apapun; serta tidak mencitrakan diri kita secara jelas. Anak kecil merasa bahagia karena mereka tidak berusaha untuk menjadi orang lain dan tidak terlalu menghiraukan apa kata orang lain."

Friday, 4 May 2018

Problem of Evil: Menguatkan atau Melemahkan Atheisme?

Problem of evil merupakan suatu pertanyaan tentang bagaimana merekonsiliasikan kejahatan dengan kemahakuasaan Tuhan dan menjadi argumen penguat ajaran atheisme maupun agnostisisme. Problem of evil ini menjadi suatu perkara yang sudah menjadi bahan pembicaraan dalam filsafat, khususnya ilmu etika.

Pernah ada suatu dialog tentang problem of evil antara seorang filsuf dan matematikawan atheis dari Inggris bernama Bertrand Russell dan seorang sejarawan filsafat kenamaan bernama Frederick Copleston.

Copleston berkata: "Tn. Russell, bagaimana caranya membedakan kebaikan dengan keburukan?"

Russell lalu menjawab: "Dengan cara sebagaimana kita membedakan antara warna biru dengan warna hijau."

Copleston bertanya lagi: "Tunggu sebentar. Kita membedakan antara dua warna tersebut atas dasar penglihatan kita, bukankah begitu? Maka, bagaimana caranya membedakan kebaikan dengan keburukan?"

Russell menjawab: "Atas dasar perasaan."

Ravi Zacharias mengomentari dialog ini dengan berkata: "Tn. Russell, sebagian kebudayaan menganggap tetangga sebagai teman, sebagian lagi menganggapnya sebagai musuh. Semua itu didasarkan atas perasaan. Apakah ada perbedaan subjektif di sini?"

Dalam salah satu bukunya, Bertrand Russell telah berujar: "Aku tidak tahu bagaimana caranya berurusan dengan perkara moralitas. Sungguh, itu memuakkanku."

Dalam suatu dialog dengan atheis, Ravi Zacharias berkata: "Pertanyaan terkait moralitas sudah menjadi suatu yang ada dalam diri kita, ketika Anda menyatakan bahwa sesuatu itu buruk, apakah bisa sesuatu yang buruk itu kemudian berubah menjadi baik? Anda pasti membenarkannya. Ketika Anda menganggap bahwa sesuatu itu baik, seharusnya Anda mengakui adanya moralitas yang sebenarnya Anda ketahui. Kalau Anda mengakui adanya moralitas, Anda juga wajib mengetahui penempatannya. Saya mengetahui bahwa Saudara sangat menentang adanya konsep moralitas ini, karena Anda sudah menolak keberadaan Tuhan, maka otomatis Anda beranggapan bahwa moralitas itu tidak ada, kalau moralitas tidak ada, berarti kebaikan tidak ada, sehingga otomatis keburukan juga tidak ada."

Karena itu, biolog kontemporer dari Inggris yang merupakan seorang atheis, Richard Dawkins berkata: "Kita harus menolak hakikat keburukan kalau kita ingin mempertahankan argumen kita."

Wednesday, 2 May 2018

Menghadapi Kenyataan

Jack Welch, mantan Ketua Eksekutif General Electric pada tahun 1981 sampai 2001 pernah berkata:

"Hadapilah kenyataan sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang telah terjadi atau sebagaimana yang Anda harapkan akan terjadi."

Penyikapan positif dan produktif terhadap kenyataan diwujudkan dengan penggambaran kenyataan sebagaimana adanya, bukan sebagaimana kehidupan masa lampau yang telah berlalu atau sebagaimana angan-angan yang kita inginkan untuk terwujud. Misalnya, dalam menjalani hidup, kita tidak akan berhubungan secara langsung dengan perbuatan di masa lampau maupun mimpi-mimpi yang semu, kita hanya perlu melihat apa yang sekarang terjadi.

Andaikata kita pernah melewatkan suatu kesempatan karena umur yang terlalu singkat atau hilangnya kesempatan, jangan sampai kita  hidup di bayang-bayang masa lalu yang telah hilang dan tidak akan kembali. Begitu pula dengan masa depan, jangan terus terkungkung dalam mimpi yang semu dan cenderung melangit (Jw. ndakik-ndakik), yang harus kita lakukan adalah merenungkan kenyataan dan kemampuan yang kita miliki, serta kesempatan baru yang kita dapatkan, baik kesempatan belajar, bekerja, dan sebagainya, hiduplah sesuai kenyataan.

Religiusitas: Penentu Kesuksesan Berumah Tangga

Bradford Smith, seorang pengacara kawakan dari Amerika Serikat pernah berkata:

"Kebanyakan kegagalan yang terjadi dalam kehidupan berumah tangga disebabkan oleh ketiadaan religiusitas, dan perceraian paling banyak terjadi pada orang-orang yang tidak beragama."

Catatan saya:

Religiusitas yang mampu menjaga keluarga dan kehidupan berumah tangga bukan religiusitas dalam hal simbol dan ritual peribadatan semata, tetapi religiusitas perilaku dan akhlak yang diwujudkan dalam perbuatan yang sesuai dengan kodrat atau fitrah sejati manusia dan selamatnya hati dari segala penyakit hati.